Toleransi Beragama ala Kampung

Ada pameo di kalangan suku Batak dimana kalau mereka dibilang: Dasar gak beragama! mereka paling hanya cengar-cengir. Coba katakan: Dasar gak tau adat! Bersiaplah karena Anda akan dikejar-kejar dengan parang atau kapak.
Mengapa? Karena posisi adat bagi suku Batak lebih tinggi penempatannya daripada agama. Agama bisa berbeda, adat tetap satu.

Setidaknya itu yang terjadi pada keluarga besar kami, yang dalam hal keyakinan benar-benar bagai kembang setaman. Mulai dari mayoritas Protestan, Katolik, Advent hingga minoritas Islam, Parmalim dan Saksi Yehovah. Namun itu semua tidak mengganggu aktifitas dalam hubungan kekerabatan kami. Di kemudian hari inilah mungkin yang disebut dengan toleransi yang sebenarnya. Berikut adalah contoh toleransi yang terjadi dalam keluarga kami:

  • Semasa kecil hingga SMP, Saya hidup di lingkungan dua komunitas yang berbeda agama, yaitu Kristen dan Islam, dimana perbandingan keduanya berimbang 50:50 dalam hal kuantitas. Jika Hari Raya Ied Fitri tiba, maka kami yang muslim akan berkirim makanan pada tetangga dan keluarga yang non muslim. Makanan dalam hal ini memang sengaja dibuatkan untuk mereka dengan semangat untuk merasakan kebersamaan Idul Fitri. Demikian juga sebaliknya jika Hari Natal tiba.

  • Dalam hal makanan, keluarga kami yang non muslim sedikit banyak juga tahu apa yang menjadi perintah dan larangan dalam Islam. Keluarga saya rutin berkunjung ke kampung ayah saya di Pulau Samosir yang penduduknya 100% non muslim. Tapi dalam hal makanan, kami tidak pernah khawatir, karena keluarga yang di kampung sudah tahu pantangan bagi kami di luar sekedar daging babi, anjing dan lain-lain. Mereka tahu, dalam Islam, binatang yang halal bisa menjadi haram seandainya tidak disembelih dengan menyebut nama Allah. Pernah ketika kami sedang berada di kebun kopi yang berjarak 7 km dari perkampungan, disusul hanya untuk menyembelih seekor ayam.

  • Jika ada keluarga non muslim yang melaksanakan hajatan-dimana biasanya makanan serba daging babi-maka mereka akan menyediakan tempat dan makanan khusus bagi yang berpantang dengan daging babi seperti Islam, Advent, Parmalim dan lain-lain.

  • Keluarga kami yang non-muslim justru sangat ‘care’ untuk mengingatkan kami jika waktu sholat telah tiba. Ibuku yang berjilbab pun bisa merasa nyaman untuk menginap di rumah keluarga kami yang berprofesi sebagai Pendeta.

  • Kami pun sudah terbiasa dan akrab dengan lagu-lagu rohani agama Kristen terutama kidung-kidung Natal seperti Silent Night, Jingle Bells dan lain-lain. Bahkan Saya pribadi merasa tersentuh mendengarkan lagu ‘Silent Night’, sama seperti ketika mendengarkan ‘Tombo Ati’ oleh Kyai Kanjeng

Namun, Kondisi itu berbeda dengan yanga ada di Jabotabek. ada sedikit ego kalau Batak itu harus identik dengan Kristen, hingga acara-acara adat pun terdistorsi oleh ritual-ritual agama tersebut. Minoritas seperti saya-dalam ruang lingkup keluarga kami-dihadapkan dengan kenyataan dan pilihan sulit: Take it or leave it! Apa karena kami terlalu banyak mendengarkan teriakan “Sodara-sodara…” dan “Allahu Akbar….”

8 Tanggapan ke “Toleransi Beragama ala Kampung”

  1. Tukangkomentar Berkata

    itulah perkembangannya!
    Dulu waktu masih kecil saya dan keluarga (dalam keluarga saya ada Islam, Kristen, Katolik, Buda, Kejawen, pokoknya campur aduk) selalu ikut merayakan Hari Raya Idul Fitri dan saya selalu dapat hadiah pakaian baru. Apalagi kebiasaan untuk saling mengantari makanan (selalu klien ortu yang dari desa juaaauh sekali datang hanya untuk mengantarkan makanan yang sederhana: Mi goreng jawa dsb., tapi nikmatnya, walah! Dan sebaliknya mereka selalu dapat sekedar sangu dari kami).
    kadang berpuluh-puluh tetampah berisi makanan terkumpul di ruang makan kami, sehingga kami harus membagi-bagikan lagi.
    Dan sebelum Hari Raya datang, ortu akan selalu membeli buanyaak sekali sarung, baju, kain dan kopiah untuk dihadiahkan ke kerabat-kerabat dan teman-teman.
    Saya sering (dan boleh) ikut ke masjid untuk melihat teman-teman sholat dan mendengar ceramah-ceramah imam. Seingat saya dulu nggak ada nada kebencian (mungkin ingatan saya sudah agak kabur lho).
    Sekarang? …………
    Yang ada cuma kecurigaan, rasa takut, benci ……..?

  2. Duhh indahnya toleransi itu… tapi kayaknya dulu emang begitu, karena gue sempet juga tu kirim2an makanan n saling mengunjungi di hari besar agama masing2. Dan sama juga, soal makanan mereka gak menjerumuskan, malah dikasih tau mana yg halal mana yg haram. Tapi gak tau knp sekarang dah gak kayak gitu lagi (setuju ama pendapat si Tukangkomentar). Dimanakah si toleransi skrg berada? mungkin dia udah pulang ke kampung halamannya ya Sya, dan yang nggantiin si curiga bin prasangka buruk, hehehe.

    Aku rindu indahnya kebersamaan…! (taelahh…)

  3. Tukangkomentar Berkata

    Selamat bertahun baru!!!!

  4. Halo, salam kenal. Gw pikir masyarakat kita pada dasarnya dari sononya sudah terbiasa dengan toleransi. Hanya saja banyak pihak2 yang ska menghembus2kan ketidakrukunan.

    Tetangg2 gw buktinya rukun2 aja tuh. Kalau lebaran yg kristen pada datang ke rumah yang lebaran. Giliran Natalan yang Islam main ke rumah yang Natalan.

    Hidup masyarakat kita!

  5. parah banget tuh! masa pulau samosir 100 persen non muslim.

  6. pokonya bisa2 aj menyesuaikan, tetapi perlu juga batasan-batasan yang nantinya tidak bercampur baur.

  7. jangan pernah membiarkan hal yang kita anggap sepeleh, karena campur baur pada akhirnya sangat sulit untuk dibedakan. jadi sebisa mungkin menghindari, dan mencari solusinya

Tinggalkan Balasan