Semangat Pencarian Amanda
Sekitar 2 minggu sebelum Ramadan lalu, seorang gadis bule bermata biru, dengan penutup kepala yang sangat minim hadir di kelas “Forum for non Muslims” Islamic Center New York. Seperti pendatang-pendatang baru, gadis ini diam, tapi nampak matanya tajam memperhatikan semuanya, mulai dari pejelasan-penjelasan mengenai Islam hingga ke wajah-wajah peserta forum.
Berbeda dengan peserta lain yang terkadang, minimal, memperlihatkan wajah senang (pretending to be pleased). Gadis ini berwajah muram, walau sekali-sekali ikut tersenyum jika ada selingan-selingan “jokes” di tengah-tengah diskusi. Nampak senyuman itu dipaksakan, sehingga kadang saya ingin bertanya kepadanya apakah ada yang mengganjal?
Pada saat tanya jawab, saya kemudian memancing dia untuk bertanya.Dengan serta merta menanyakan sesuatu yang belum terlintas di benak saya selama ini. “If Mohammed is a prophet, why he killed and robbed the people?” Seolah tak percaya, saya balik bertanya: “What?” tanya saya, seolah tak percaya dengan keterusterangan itu. Dia kemudian menjelaskan: “You know, before the first war (Badar) in Islam, Mohammed went out to kill those passing traders and took their belongings”.
Saya kemudian menenangkan diri lalu tersenyum kepada peserta lain yang hampir juga tidak percaya dengan keberanian gadis tersebut. Saya justeru tidak ingin langsung menanggapi pertanyaannya, dan justeru menanyakan latar belakang gadis tersebut. Ternyata dia memang gadis dari sebuah perkampungan di IOWA. Daerah tersebut sangat dikenal dengan sebutan “Red Neck” (berleher merah) dan sangat racist. Dia juga menjelaskan bahwa sekarang ini dia bekerja sebagai “peneliti” di Institute of Science kawasan Harlem, New York.
Setelah tanya sana sini, didapati kemudian bahwa dia ini mengenal Islam dari seorang penjaga tokoh di Harlem. Penjaga tokoh itu ternyata suami dari Huda (lihat cerita I am the second wife). Beliau inilah yang setiap kali gadis ini singgah untuk membeli sesuatu tidak segang-segang membagikan “flyer” tentang Islam. Hingga pada akhirnya keingin tahuan gadis ini untuk tahu Islam semakin menjadi-jadi, tapi dengan latar belakang yang memang kurang enak.
Gadis ini dianjurkan oleh suami Huda untuk datang ke Islamic Center dan belajar Islam pada “Islamic Forum for non Muslims”. Maka pagi itu, sebelum peserta lain tiba, dia telah duduk dengan tenang tapi dengan pandangan yang cukup tajam. Pertama kali saya sangka seorang mahasiswa jurnalisme Columbia, yang selama ini memang sering meliput diskusi itu. Ternyata dia adalah Amanda. Seorang gadis IOWA yang kini menjadi peneliti di sebuah badan ilmu pengetahuan di kota New York.
Hari itu pertanyaan-pertanyaannya memang sangat banyak, dan kebetulan waktu sangat terbatas. Jadi saya usulkan agar dia mengemailkan ke saya semua pertanyaannya dan mengajak berdiskusi lewat email. Diapun menyetujuinya. Sesampai di rumah di malam hari, saya buka email, ternyata Amanda telah mengirimkan email dengan 4 halaman pertanyaan yang di”attched” (dilampirkan). Semua pertanyaan itu ditulis dengan nada sinis dan menyerang (offensive). Mulai dari masalah-masalah ketuhanan, Muhammad (SAW), hingga kepada masalah-masalah sosial.
Amanda juga mengusulkan agar kiranya saya punya waktu khusus untuk berdiskusi dengannya. Alasannya, kali ini positif, dia tidak ingin memberikan persepsi salah tentang Islam kepada peserta “Islamic Forum” yang lain. Atas usulan ini, saya setujui. Hari kamis disetujui setelah jam kerja Amanda akan datang ke Islamic Center untuk berdiskusi.
Sejak itulah, Amanda mulai datang setiap Kamis sore dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang kritis. Tapi karena terlanjur masuk bulan Ramadan, maka Amanda selalu datang bersamaan dengan waktu berbuka puasa. Sehingga terkadang diskusinya terpotong dengan acara buka puasa. Tidak lupa saya mengajak Amanda menikmati hidangan buka puasa. Dia nampak menikmatinya.
Setelah beberapa lama berdiskusi setiap Kamis, terkadang diselingi dengan debat yang cukup sengit, dan bahkan sedikit emosional, suatu hari saya mendapatkan email dari Amanda yang berbunyi: “I am starting feeling the faith in Islam. I think you are a good salesman”.
Sambil bercanda saya jawab emailnya: “yes, I am a good businessman but never been rich because I sell the most valuable thing for no material returns”.
Sejak saya menerima email dari Amanda di atas, setiap kali datang ke kelas dia semakin kalem. Pertanyaan-pertanyaannya semakin rasional, dan bahkan selalu bertanya: “Is is ok to ask this question”? Saya selalu menjawab: “In Islam, you can ask anything without being hesitant. Inquiring is a human nature, and it’s very much supported by Islam”.
Setelah lebaran, Amanda saya undang untuk hadir serta dalam acara Halal bihalal di kediaman Dewatapri New York. Tanpa saya sangka, ternyata Amanda menyimpang banyak hal yang sifatnya khusus Indonesia. Dia mengatakan: “I did not know that you are from Indonesia until now”. Lalu dia memulai membuka perdebatan tentang “religious freedom” dengan berbagai kasus di Indonesia, termasuk kasus Lia Aminuddin.
Menurutnya, penangkapan Lia Aminuddin itu bertentangan dengan ajaran Islam yang mengajarkan “kebebasan beragama”. Dia kan hanya mengekspresikan keyakinannya. Kenapa lalu ditangkap?
Saya kemudian mencoba menjawab bahwa apa yang dilakukan oleh Lia Aminuddin bukan mengekspresikan keyakinan, tapi mendistorsi keyakinan yang telah eksis. Kalau Lia Aminuddin mengaku menciptakan “keyakinannya” ya silahkan. Tapi mengakui Islam sebagai keyakinannya tapi kemudian mendakwahkan sesuatu yang justeru secara mendasar bertentangan dengan Islam, itu adalah “distortion”. Dan inilah yang menjadi masalah.
Singkat cerita, setiap kali Amanda saya berikan buku pasti dihabiskan dalam waktu yang singkat. Bukan sekedar dibaca, tapi dipahami sekaligus dikritisi. Buku Maurice Bucaile: “Science, Qur’an dan the Bible” dibaca dalam 3 hari.Ternyata dia sangat tertarik karena memang bidangnya. Tapi pada saat yang sama dikritisi bahwa buku ini berlebihan dan seolah melihat Al Qur’an itu buku science.
Email terakhir dia minta segera didoakan. “My heart is willing, but my mind is curious to know more”. I am praying before going to the work now”, kata dia. Malah lanjutnya: “I feel soon to be Muslim, but I don’t know when”.
Saya hanya menasehatkan: “The best advisor in life is your own heart. Ask your heart and judge with your sound mind. Do not let your mind turn down what your heart sees good for you”.
Teman-teman,
Saya tuliskan cerita ini agar rekan-rekan membantu Amanda dengan doa. Semoga segera dimudahkan oleh Allah SWT, bagaimanapun caranya. Sebab hidayah hanya di tanganNya dan hanya Dia yang tahu bagaimana menyampaikan hidayah itu kepada siapa yang dikehendakiNya.
Wassalam, 29 Nopember 2006
Desember 11, 2006 pada 12:32 pm
Semoga Amanda diselamatkan dari tipudaya para Salesman.
Amin, Amin ya Allah ya Rabbal Alamin.