Kerukunan beragama di Indonesia, seperti apa?
Sebelum jauh tentang bagaimana hidup damai di antara penganut berbagai agama di Indonesia, sebaiknya perlu kita selidiki lebih dulu ‘perbedaaan dan pertentangan yang bagaimanakah yang terdapat di agama-agama itu’? Penyelidikan itu berguna untuk menjadi bahan pokok yang selanjutnya menjadi kebijakan pemerintah menghadapi pembangunan agama-agama yang ada di Indonesia.
Selain itu perlu kita mengetahui kerukunan tingkat apa yang mungkin dicapai di antara mereka. Mungkinkah dicapai kerukunan tingkat maksimal semacam unity of religion? Kalau bentuk pertentangannya merupakan pertentangan sub alternation atau pertentangan sub contrary misalnya, menurut logika formil masih mungkin dikonfromikan. Tetapi kalau pertentangan itu merupakan pertentangan contradiction atau pertentangan contrary, maka kompromi atau unity-dari segi jaraknya-pasti tidak mungkin.
Pertentangan ajaran keagamaan mengenai figur Isa antara Islam dan Kristen adalah contrary, kurang lebih seperti ini:
- Semua umat Kristen mempercayai Isa sebagai Tuhan
- Semua umat Islam tidak mempercayai Isa sebagai Tuhan
Juga mengenai figur Muhammad terdapat pertentangan contrary sebagai berikut:
- Semua umat Islam mempercayai Muhammad adalah Nabi
- Semua umat Kristen tidak mempercayai Muhammad sebagi Nabi
Pertentangan antara Islam dan Hindu adalah contradiction, sedang antara Islam dan Yahudi mungkin hanya sub contrary, Syi’ah dengan Sunni atau Katolik dengan Protestan hanyalah pertentangan sub alternation.
Di Indonesia-tanpa bermaksud meremehkan hubungan dengan penganut lain-yang banyak jadi perhatian adalah adanya semacam snggung-menyinggung antara penganut Islam dan Kristen. dan untuk mengatasi itu kadang-kadang disalurkan pada jalan-jalan kerukunan yang munafik, cara-cara hipokrit yang suatu ketika bisa pecah jadi clash yang lebih parah.
Islam yang mengerti tidak mau ‘menampar’ Tuhan demi untuk menyenangkan hati temannya. Kerukunan yang harus kita lakukan adalah kerukunan yang ikhlas, sesuai dengan keyakinan masing-masing, tidak boleh menyudutkan satu pihak untuk menenggang pihak lain walaupun sudah diketahui bertentangan dengan imannya. Dibawah ini mungkin beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh semua penganut agama di Indonesia:
- Masing-masing pihak menyadari bahwa ajaran agama mereka tentang iman dan ketuhanan adalah sangat berbeda dan tidak mungkin dikompromikan. Dan dalam hal ini lebih tidak mungkin lagi untuk dilakukan usaha ke arah Pantheonisme. Kerukunan pada soal ini adalah hormatilah setiap orang dengankeyakinannya masing-masing.
- Masing-masing pihak mengakui tentang hak dan kewajiban pihak pimpinan agama lain untuk mengajarkan agamanya bagi penganutnya sendiri walaupun agama itu mencela agama kita. Misalnya, seorang Pendeta berkhotbah di depan umat Kristen atau orang beragama lain yang datang untuk mendengarkan ajaran Kristen, sedang dalam khotbahnya ada ajaran bahwa ‘Muhammad adalah contoh Nabi palsu yang disinyalir Jesus dalam Markus 13:22′. Tidak boleh seorang umat Islam pun tersinggung dan mengadukan hal ini sebagai penghinaan terhadap agama Islam. Begitu juga sebaliknya, jika seorang ustadz mengajar di depan umat Islam atau orang beragama lain yang ingin mendengarkan uraian ajaran Islam, sedang dalam uraiannya dikatakan ‘Siapa yang mempertuhankan Isa adalah musyrik’ maka tidak boleh seorang umat kristen tersinggung dan mengadukan hal itu sebagai pelecehan terhadap agama Kristen. Mengapa? Sebab memang ada dalam Qur’an, sepertiga dari isinya adalah koreksi terhadap umat Yahudi dan Nasrani tentang penyelewengan mereka atas ajaran nabi mereka (Musa dan Isa).
- Masing-masing pihak hendaknya menenggang pihak lain agama jika hubungan kepentingan di luar poin 2 di atas. Misalnya, umat Islam janganlah berdzikir dengan menggunakan loud speaker pada tengah malam atau dini hari padahal bukan waktunya ibadah. Orang Islam sendiri merasa terganggu, apalagi umat beragama lain.
- Masing-masing pihak mengakui bahwa pihak lain yang karena memang dituntut oleh agamanya untuk menyiarkan pada pihak lainnya. Tetapi hendaknya setiap pihak melakukan penyiarannya jangan melanggar adat kebiasaan setempat, apalagi menggunakan motif kelemahan ekonomi suatu masyarakat. Zaman ini bukanlah seperti zaman dahulu yang sangat susah dalam menyampaikan syi’ar agama. Marilah kemukakan melalui internet, buku-buku, seminar terbuka dimana berkumpul orang-orang yang memang mencari mana agama yang benar. Bukan mempengaruhi orang-orang dhua’fa dan anak-anak yang memang kurang perhatiannya dalam soal agama.
Inilah sedikit yang memang kadang kita telah lupakan, sehingga seperti ketahui dengan sedikit pemicu saja sudah terjadi pergolakan yang didasari agama. Semoga bermanfaat.
November 3, 2006 pada 6:50 pm
Bagaimana umat bisa berkesadaran seperti diimpikan pada point (1) dan (3), bila setiap kali selalu didakwahi oleh para ulama yang tingkah dan cara mikirnya seperti pada point (2)?
Point 4, dalam hal rebutan umat, setiap pemuka agama pasti punya nafsu seperti itu, kalau perlu dengan hal-hal mirip seperti pada point (2). Tapi yang bagian akhir itu saya setuju banget, biarkan orang belajar semua agama dan memilih apa yang menurut mereka cocok, tanpa intimidasi, tanpa ancaman maut.
November 4, 2006 pada 9:30 am
tambahan untuk poin 2:
Jika dilakukan dalam lingkungan sendiri saya kira tidak menjadi masalah. Jika saya datang ke gereja dan dalam khotbahnya dikatakan ‘Muhammad belum tentu masuk surga sedang umat Kristiani pasti masuk, sebab Yesus adalah Juru Selamat’ yah..itu hak mereka. Sepanjang tidak untuk konsumsi publik yang plural, saya kira tidak ada masalah.
November 19, 2006 pada 4:42 pm
Beragama kan berarti harus berpikir secara dewasa dan secara “pintar”, iya toh?
Kalau menurut saya ajaran-ajaran yang menyalahkan orang/agama lain, baik itu ada dalam kitab agama masing-masing atau merupakan suatu interpretasi saja, merupakan suatu hal yang tidak benar dan tidak perlu digembar-gemborkan, baik dalam gereja, masjid ataupun di luar. Kita ini kan oleh Allah/Tuhan/Manitou/Wisnu dll. diberi otak bukan dengan tujuan supaya nurut saja tanpa mikir, tapi (mungkin) supaya agar bisa berkembang dan mengerti ajaran-ajaran tersebut. Mungkin duluuu itu memeang perlu ajaran-ajaran seperti tersebut di atas untuk membatasi diri dari pengaruh yang lain. Tapi sekarang, apakah itu masih perlu?
Saya pernah membaca komentar dari seorang muslim di sebuah blog: saya memilih agama Islam karena selalu up to date.
Saya pikir, wah, ini sebuah permulaan yang bagus. Asal up to date-nya itu bukan ke arah yang nggak-nggak, kan?
Kalau saya sendiri pada prinsipnya berusaha mengesampingkan “amanat-amanat” atau “aturan-aturan” yang menyerang/melecehkan/menghina/merendahkan/melaknatkan (dst, dst) agama, kepercayaan ataupun manusia yang lain. Itu untuk saya tidak perlu dan saya yakin Allah atau Tuhan (atau disebut dengan nama apapun) tidak akan seluruhnya setuju dengan interpretasi agama yang berlaku saat ini.
Pasti akan ada yang bilang: yah, kalau gitu sih, kamu menyalahi agama dan akan masuk neraka.
Nggak apa-apalah, saya sih rela masuk neraka, asal jalan saya tidak menyalahi orang lain, baik dari agama atau kpercayaan yang manapun.
Salam.
Desember 9, 2006 pada 8:47 pm
Wah, ini blog yang menarik. Ijinkan sedikit memberikan komentar :
point 2 :
…sebab memang ada dalam Qur’an, sepertiga dari isinya adalah koreksi terhadap umat Yahudi dan Nasrani –>Betulkah?, koreksi dalam pemahaman ayat Al Qur’an memang dirujuk dan dijelaskan oleh Allah, tapi saya belum berhasil mendapatkan hasil/penelitian bahwa jumlahnya mencapai 1/3.
Semua umat Islam tidak mempercayai Isa sebagai Tuhan –> menurut saya lebih tepat, semua ummat Islam yang membaca Al Qur’an dikabarkan bahwa Isa adalah nabi, dan mengabarkan kepada ummat Nasrani & Yahudi (bukan Kristen, karena kristen lahir 300 tahun kemudian — kalau tak salah, oleh Konstantinopel) buruklah apa yang mereka katakan bahwa Isa putera Maryam adalah anak Allah, dst.
Semua umat Kristen tidak mempercayai Muhammad sebagi Nabi –>Gereja Eropa menekankan hanya satu-satunya jalan untuk keselamatan, yaitu melalui Yesus, Sang juru selamat. Namun, kemudian mereka di pertengahan abad ini melakukan koreksi bahwa itu bukan satu-satunya jalan (maaf saya lupa tahun persisnya karena tidak cek catatan aslinya).
Semua umat Kristen tidak mempercayai Muhammad sebagi Nabi –>saya kira tidak ‘’semua”. Mereka sesungguhnya juga dalam keraguan tentang kitab mereka (QS 42:14). Davinci Code adalah salah satu tanda (bukan bukti) adanya keraguan tentang kitab mereka. Hermenetik untuk memodernkan pengertian Injil dibangun dari latar belakang ”kegelapan eropa” yang membuat para pendeta sangat kuat posisinya dalam lingkungan masyarakat.
Catatan tambahan : terjemahan sangat membantu saya untuk memahami, tapi kadang tanda kurung pada penerjemahan membantu memperjelas arti tapi ketika merujuk tanda kurung dengan kata nasrani, yahudi ada kerugiannya. Sepertinya ini mempersempit peluang keluasan arti dari suatu ayat. Saya lebih suka membacanya tanpa tanda kurung dulu. Boleh jadi memang Asbabun Nuzulnya demikian, tapi bukan dan sama sekali bukan (harus) rujukan kepada dan berfungsi pada peristiwa masa lalu. Kita pahami dalam arti seluas-luasnya, dengan asa bahwa Kalimat Allah, adalah kalimat agung, bacaan mulia. Tidak diartikan dalam kotak yang disembunyikan dalam tanda kurung.
Untuk bbrp sisi oke, tapi tidak selalu… saya kira.
Kerukunan adalah memahami perbedaan dan bukan untuk memaksakan perbedaan. Ummat Islam, perlu mengabarkan berita Al Qur’an secara baik dan cara sebaik-baiknya. Tapi tidak boleh ada sedikitpun pemaksaan. Karena itu, memang point-point tersebut dalam artikel Mas adalah baik.
Mayoritas, menguasai kehidupan bermasyarakat. Ketika kita jadi minoritas, maka harus (dan terpaksa menyesuaikan). Sila pertama dari Pancasila adalah ketuhanan yang Mahaesa (awalnya ditambahkan kalimat, … dan melaksanakan syariat Islam bagi pemeluknya). Para pendahulu kita, telah merelakan kata ini dihilangkan untuk kesadaran bersama bahwa toleransi itu perlu. Wassalam.
Wallahu’alam.
Desember 31, 2006 pada 8:53 am
Koreksi sedikit: banyak sekali umat kristen yang mengakui kalau Muhammad adalah Nabi. Walaupun ini perlu proses panjang, namun pada hakikatnya di ajaran Kristen tidak ada pembatasan Nabi, artinya tidak ada klaim kalau si A atau B adalah nabi terkahir. Sehingga sebetulnya ada ruang teologis di ajaran Kristen untuk Muhammad sebagai Nabi. Penolakan di masa lalu (dan sering sampai saat ini) lebih diakibatkan karena hubungan politik seperti perang.
Yesus sendiri mengatakan bahwa banyak orang dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Ia buat (mewartakan kebaikan) dan bahkan mungkin lebih besar lagi, kata-Nya. Ini tentu membuka ruang bagi siapa saja, termasuk Muhammad, untuk diakui sebagai Nabi oleh orang Kristen.
Januari 24, 2007 pada 5:40 pm
Sebagai seorang kristen, saya lihat kemunculan
tahun 700-san dan saya yakin membawa kebaikan.
Muhammad adalah Nabi, tidak dipersoalkan sebagai
Nabi Terakhir. Nabi Isa ‘diper-Tuhan-kan’ oleh
seseorang adalah haknya. Saya setuju Ia adalah Manusia.
Januari 24, 2007 pada 5:46 pm
Kalau boleh saya artikan, bahwa dalam Markus 13:22,
Yesus tidak sedikitpun menyatakan bahwa Nabi
Muhammad adalah nabi palsu. Hanya sekiranya kita
setuju sejak dulu banyak muncul nabi-nabi yang
‘me-nabi-kan’ dirinya, juga dinyatakan dalan Al Qur’an.
Agustus 4, 2008 pada 7:20 pm
Kepada Saudara-saudaraku Umat Kristiani di seluruh tanah air. Perkenalkan, saya, Andhika, seorang muslim.
Saya dan Anda adalah orang yang beruntung memiliki sosok tokoh terkemuka di dunia dan di akhirat yang bernama Yesus Kristus Putera Maria (dalam agama Kristen) atau Al Masih ’Isa Putera Maryam (dalam agama Islam). Meskipun keyakinan kita terhadapnya berbeda, Umat Kristiani meyakini bahwa Dia adalah Tuhan, sedang Umat Islam meyakini bahwa Dia adalah manusia biasa yang merupakan seorang Nabi dan Rasul sebagaimana Nabi dan Rasul yang lainnya. Namun, perbedaan ini sesungguhnya bukanlah sebuah bahan pertentangan. Lebih baik dari itu, perbedaan ini sesungguhnya adalah sebuah jalan bagi kita untuk saling berbagi dan saling melengkapi satu sama lain.
Kita menyadari bahwa tidak mungkin kedua pendapat itu benar semua. Pasti ada satu pendapat yang benar dan yang lain keliru/salah. Jika kita menyadari, sesungguhnya kita telah mengalami kegagalan yang besar. Dikatakan gagal karena selama lebih dari seribu tahun, kita belum dapat bersatu dalam satu pendapat yang benar. Kita masih berseberangan dalam perbedaan pendapat tersebut. Padahal kita hanya dituntut untuk memilih satu pendapat yang benar dari dua buah pendapat saja. Dalam hal ini, Kita pun harus mengakui bahwasannya kita (manusia) lah yang bersalah, karena Tuhan telah memberikan rasio, akal, dan hati kepada manusia, akan tetapi sedikit sekali di antara manusia yang mau mempergunakannya.
Saya mengajak Saudara-saudaraku Umat Kristiani agar bersungguh-sungguh dalam memilih satu pendapat yang benar dari kedua pendapat yang ada tersebut. Marilah kita berupaya mencari kebenaran yang hakiki itu dengan hati yang bening, pikiran yang jernih, dilakukan dengan kejujuran hati dan sikap yang objektif. Kebenaran yang hakiki itu akan tampak jelas manakala kita dapat menilai sesuatu dengan kejujuran hati dan sikap yang objektif.
Apabila keyakinan yang kita anut saat ini adalah keyakinan yang benar maka kita sangatlah beruntung. Namun, apabila keyakinan yang kita anut saat ini adalah keyakinan yang salah dan ajal datang menjemput kita, maka kita sangatlah merugi dan akan dimasukkan ke dalam neraka untuk selamanya.
Untuk menemukan satu pendapat yang benar dari kedua pendapat yang ada itu, maka kita perlu mengkaji dua kitab suci, yaitu Bibel dan Al Qur`an, yang mana keduanya merupakan sumber ajaran agama baik agama Kristen (bersumber dari Bibel) maupun agama Islam (bersumber dari Al Qur`an). Marilah kita mengkaji keduanya dengan kejujuran hati dan sikap yang objektif agar supaya kebenaran yang kita cari tampak jelas adanya. Salam kepada Umat Kristiani di seluruh tanah air, besar harapan kita agar dapat selalu hidup berdampingan dengan rukun dan damai.